F A T E . 02
by Destira A F
Chapter 2
-
Apartemen Ye-sung / Kim Jong-woon -
Ye-sung merenggangkan tubuhnya di atas
kasurnya yang empuk sambil mengerang dan menguap. Mengerjap-ngerjapkan mata
beberapa detik, perlahan kantuknya hilang sepenuhnya. Beranjak duduk sambil
menggaruk-garuk kepalanya, ia menatap ke jendela kamarnya yang tak tertutupi
tirai dan membuat sinar matahari pagi menerobos masuk dengan bebas.
Ia berdiri dan menghampiri jendela
tersebut untuk membukanya dan membiarkan udara segar masuk. Suasana begitu
tenang dan damai pagi ini. Ye-sung menghirup udara pagi yang segar, lalu
tersenyum. Tapi tiba-tiba teringat olehnya gadis aneh semalam.
Ye-sung
menggeleng-gelengkan kepalanya. Semalam pasti cuma mimpi buruk, pikirnya
meyakinkan diri sambil berjalan keluar dari kamarnya. Benar, semua hanya mimpi,
batinnya, mengamati keadaan sepi, tenang, dan teratur apartemennya yang seperti
biasa. Bahkan Ddangkoma pun terlihat nyaman bermala-malasan dalam kandangnya.
“Selamat
pagi, Ddangkoma!” sapanya sebelum berbelok menuju kamar mandi, namun langkahnya
terhenti ketika melihat pintu kamar tamunya yang terbuka. Kapan aku membukanya?
batinnya dalam hati sembari melangkah mendekati kamar itu. “Astaga!” serunya,
terkejut bukan kepalang, melihat gadis yang dipikirnya hanya berasal dari mimpi
buruknya, kini tengah duduk santai di depan meja rias kamar tamunya.
Dan
yang lebih mencengangkan—membuat Ye-sung berpikir bahwa dirinya sebenarnya
masih tidur dan sedang berada dalam dunia mimpi—adalah cara gadis itu
berdandan. Ia tidak menggunakan tangannya sendiri untuk menyisir dan mengikat
rambutnya dalam tatanan yang rumit tersebut, melainkan benda-benda seperti
sisir, pita, jepit rambut, dan semacamnya itu, melayang-layang di udara,
bergerak-gerak sendiri untuk menata dan menghias rambut gadis itu, sementara ia
sendiri tengah asyik membaca buku!
Ye-sung
menampar pipinya sendiri untuk membuktikan bahwa ia hanya sedang bermimpi,
namun rasa panas yang menyengat pipinya itu membuatnya mengaduh kesakitan.
Juny
yang sedang asyik membaca buku kumpulan mantra, mendongak ketika mendengar
suara Ye-sung. Melalui cermin mereka beradu pandang, sebelum dengan cepat
Ye-sung melesat ke ruang tengah untuk menelepon satpam agar mengusir Juny
keluar. Walau tidak tahu apa yang sebenarnya hendak dilakukan pria itu, tetapi
Juny mempunyai firasat Ye-sung akan melakukan sesuatu yang tidak akan
disukainya, karena itu ia bergegas mengikuti, dengan diiringi sisir, jepit, dan
pita yang masih melayang-layang mengitari kepalanya.
“Halo?
Ini Kim Jong-woon, dari apartemen nomor 1313! Tolong usir gadis—“
Dengan
segera Juny melambaikan tongkatnya, dan dalam sekejap, gagang telepon tersebut
berubah menjadi bayi buaya dengan mulut yang menganga lebar.
Berteriak
kanget dan ngeri, kontan saja Ye-sung melempar gagang telepon / bayi buaya
tersebut, dan membelalakkan matanya ke arah Juny yang tengah bersedekap santai
mengamatinya.
Rasa
takut yang mencekam Ye-sung membuatnya berlari menuju pintu untuk kabur keluar.
namun kemudian handle pintu yang dipegangnya tiba-tiba berubah menjadi ular
cobra yang siap mematuk.
“Aaa…!!!
Tolooong!!!” teriak Ye-sung, melepas pegangannya dari handle pintu / ular cobra
tersebut, dan melompat sejauh mungkin.
Juny
mengamati semua itu dengan senyum tipis. Sebenarnya binatang-binatang itu hanya
ilusi yang diciptakan oleh sihir Juny, namun tentu saja ia tak akan memberitahu
Ye-sung. Ini jelas menguntungkan baginya. Ia dapat mengendalikan pria itu
dengan menakutinya.
Melangkah
mendatangi Ye-sung yang terpojok duduk di sudut ruangan, Juny dengan santai
memain-mainkan tongkat sihirnya, menyadari mata Ye-sung terus tertuju pada
benda tersebut.
“Si…
siapa kau sebenarnya…?” tanya Ye-sung gugup.
“Bukankah
semalam aku sudah memperkenalkan diri?” Juny balik bertanya dengan nada datar.
“Aku Juny Killarney. Jodohmu.”
Setengah jam kemudian, duduk berhadapan
di meja makan, setelah melakukan pembicaraan panjang mengenai alasan kehadiran
Juny di rumahnya ini, Ye-sung menatap gadis itu dalam diam dengan serius.
“Makanlah.
Aku sudah membuatkan sarapan ini untukmu,” perintah Juny, menunjuk roti
panggang, telur dadar, dan sosis yang telah tersedia di meja makan. Walaupun
tak menginginkan Ye-sung, tetapi tetap saja Juny merasa dirinya memiliki
kewajiban untuk melayani pria itu selayaknya istri yang baik terhadap
suaminya—hal yang ditanamkan ibunya sejak kecil padanya.
Namun
Ye-sung masih terlalu larut dalam pikirannya sendiri untuk mendengarkan
perkataan Juny.
Juny
Killarney seorang penyihir—tak ada keraguan sedikitpun tentang hal tersebut
setelah ia melihat sendiri apa yang dilakukan gadis itu. penyihir dari
Irlandia, yang “terpaksa” datang ke Korea, dan tinggal bersamanya, karena
menurut Cermin Jodoh yang legendaris, dirinya adalah jodoh gadis itu. semua itu
terdengar mustahil! Tapi… bila gagang telepon bisa berubah menjadi bayi buaya,
dan handle pintu menjadi ular—juga tak lupa sisir dan aksesoris yang
melayang-layang di atas kepala Juny tadi—rasanya tak ada lagi hal yang terlalu
mustahil untuk terjadi.
Tapi
bagaimana bisa nasibku seperti ini? Ye-sung bertanya-tanya dalam hati dengan
fustasi. terbayang di benaknya kehidupan percintaan sahabat-sahabatnya; Si-won
menikah dengan gadis semanis Dae-jia. Eun-hyuk berpacaran dengan Shin-woo—yang
juga sahabat Dae-jia—yang keanehannya satu-satunya hanyalah jarang dapat
mengekspresikan emosinya. Dan Han Geng, walaupun masih dirahasiakan,
bertunangan dengan Suin Yung kecil yang lucu dan polos dari kampung halamannya
di China. Memikirkan gadis-gadis itu, hanya satu yang melintas dibenak Ye-sung.
Normal.
Kenapa!?
Ye-sung bertanya pada dirinya sendiri dengan dramatis. Kenapa aku!? Diantara
begitu banyak wanita yang tersebar di seluruh penjuru dunia ini, kenapa aku
justru mendapatkan gadis dari “dunia lain” ini!?
Juny
meneliti ekspresi merenung Ye-sung yang serius. Kelihatannya dia tidak senang
berjodoh denganku, pikirnya tersinggung. Ia, Juny Killarney, penyihir muda
paling berbakat abad ini, yang berasal dari keluarga terpandang karena hubungan
baik dan kesetiaan keluarganya pada kerajaan sihir Irlandia, merupakan incaran
para pria di negerinya! Tapi seorang pria Asia non-penyihir seperti Ye-sung
malah tak menginginkanku!? Ini penghinaan! makinya dalam hati. seharusnya dia
bersyukur berjodoh denganku!
“Begini
Nona,” mulai Ye-sung, berusaha sopan. “Mungkin terjadi kekeliruan. Mungkin
cermin itu melakukan kesalahan? Bagaimana mungkin kita berjodoh, kan?” Ye-sung
mencoba bercanda dan tertawa hambar, namun segera menghentikannya karena tak
mendapat tanggapan dari Juny yang hanya menatapnya dingin.
“Kau
menghina cermin jodoh yang keramat?” tanya Juny dengan nada datar.
Keramat?
Sial, batin Ye-sung. “Oh tidak, tentu saja tidak. Mana mungkin aku begitu.”
“Walaupun
aku juga amat berharap ramalan itu salah, namun nyatanya tidak mungkin. Memang
kau lah… jodohku,” Juny mengucapkan kata terakhir dengan tak rela.
“Bagaimana
bila kita berpura-pura saja ramalan itu tidak ada?” usul Ye-sung, yang segera
dibalas dengan tatapan mematikan Juny. “Oh, sepertinya bukan ide bagus,”
gumamnya sembari berdeham gugup.
“Aku
lebih memilih menurunkan derajatku dengan bersamamu, dibanding mendapat hukuman
para dewa!”
“Menurunkan…
apa!? kau bilang apa!?” Ye-sung yang tersinggung sudah berdiri dari kursinya
karena terlalu emosi, namun seketika emosinya mereda ketika melihat Juny
menyusurkan jari telunjuknya di tongkat sihirnya.
“Ibuku
memberi batas waktu, paling tidak tahun depan kita sudah harus menikah—“
“Menikah!?”
seru Ye-sung dengan nada suara meninggi.
“Kita
tak mungkin selamanya begini,” kata Juny tenang. “Aku sudah bermurah hati untuk
menunggu sebentar agar kita bisa lebih mengenal satu sama lain, tapi pernikahan
harus dilakukan secepatnya.”
Mulut
Ye-sung terbuka dan mengatup berulang kali, seolah ada yang ingin disampaikannya,
namun terlalu bingung untuk memulai dari mana.
“Sepertinya
kau sudah mengerti,” komentar Juny. “Sekarang, makanlah.”
“Aku…
kita… kau… hah… astaga! menikah tidak semudah itu!” akhirnya Ye-sung
mengeluarkan bantahan. “Kau tidak tahu siapa aku!? Ye-sung, member Super
Junior! Kami terikat kontrak, dan kewajiban pada para penggemar. Aku tidak bisa
menikah seenaknya seperti yang sudah ‘kau’ rencanakan sendiri!” katanya keras.
“dan kau juga tak bisa tinggal di sini! akan terjadi skandal besar bila
orang-orang tahu aku hidup bersama wanita asing! Ini tak akan bagus untuk
karirku!”
“Apa
karirmu lebih penting daripada keselamatanku!?” tuntut Juny. “Menurut ramalan,
siapapun yang mengingkari takdir yang ditetapkan para dewa, ia akan dikenai
hukuman dan mendapat kesialan seumur hidupnya! Aku tak sudi membahayakan
nyawaku sendiri!”
“omong
kosong! Bagaimana bisa kau begitu egois!?” serang Ye-sung.
“Kau
pun egois karena lebih memikirkan karirmu, bukan begitu?” balas Juny.
“karena
itu kita tak seharusnya bersama!” seru Ye-sung marah.
“Kau
tak boleh menolakku!” Juny balas membentak. Bersamaan dengan itu, semburan
emosinya yang berpadu dengan energy sihir, menimbulkan angin kencang yang
bertiup masuk melalui jendela-jendela dan pintu menuju balkon yang terbuka,
begitu kencangnya hingga nyaris menerbangkan Ye-sung.
“Hentikan!
Tolong, hentikan! Maafkan aku!” seru Ye-sung, berpegangan erat pada meja
makannya.
Seketika
hembusan angin itu reda, menyisakan ruangan apartemen Ye-sung yang acak-acakan.
Menghela
napas lelah, Ye-sung mengusap wajahnya. “Begini, mengertilah, aku seorang
idola. Aku tak bisa bertindak sesuka hatiku sendiri, karena public menyoroti
tiap langkahku,” Ye-sung mencoba bicara baik-baik.
Juny
terdiam merenungkan perkataan pria itu. “Kita bisa berkompromi,” katanya pada
akhirnya. “Bila memang sepenting itu, kita bisa merahasiakan keberadaanku di
sini hingga tiba waktunya kita menikah—“
“Maksudku—“
Ye-sung mendesah, menyadari tak ada gunanya bicara dengan penyihir keras kepala
yang sialnya mengaku sebagai jodohnya tersebut.
Drtttt…
suara getar ponselnya yang ditaruh di atas meja mengejutkan Ye-sung. Tanpa
melihat lebih dulu siapa peneleponnya, ia segera menerimanya, bersyukur
mendapat kesempatan melarikan diri dari Juny. “Halo? Oh, astaga! Kau benar!
Tenang saja, aku segera datang!”
“Aku
bahkan belum mengucapkan apa-apa!” protes Eun-hyuk dari seberang telepon. “Kau
ini kenapa?”
“Iya,
aku tahu aku sudah sangat terlambat. Maaf. aku akan segera kesana, Shin-dong,
tenang saja,” lanjut Ye-sung dengan mencengangkan mampu terlihat tenang dan
meyakinkan sambil beranjak dari kursinya.
“Shin-dong!?
Shin-dong!? Kau menyebutku Shin-dong!? kau gila!? Apa tubuhku terlihat sebesar
dia!?” protes Eun-hyuk.
Rupanya
Eun-hyuk, pikir Ye-sung, akhirnya mengenali suara peneleponnya. “Aku mengerti.
Maaf membuat kalian menunggu lama. Baiklah, aku segera mandi dan berangkat.
Sampai jumpa di kantor,” katanya sambil berjalan menuju kamar mandi tanpa
menghiraukan protesan Eun-hyuk.
“Hei!
Kau—“ klik. Ye-sung memutus sambungan teleponnya. Di depan kamar mandi, ia
menoleh menatap Juny. “Maaf, aku sibuk, dan harus segera berangkat ke kantor.
Kita bicarakan lagi nanti.”
“Aku pergi dulu,” pamit Ye-sung,
walaupun sebenarnya ia merasa tak perlu melakukan itu terhadap gadis yang
seenaknya menjajah rumahnya.
“Apa
kau akan pulang cepat?” tanya Juny.
“Tidak
tahu,” jawab Ye-sung, dan menambahkan dalam hati; aku akan pulang selarut
mungkin. Dan saat aku kembali kuharap dia sudah pergi! “aku pergi,” katanya
lagi.
“Kak
Ye-sung!” suara ceria yang menyapanya mengejutkan Ye-sung. Teringat keberadaan
Juny di dalam rumahnya, buru-buru ia menutup pintu.
“Eh,
kau lagi…” gumam Ye-sung, berusaha terlihat santai.
Kim
Hae-sa, gadis berusia delapan belas tahun yang merupakan tetangga dan juga
penggemar berat Ye-sung, tersenyum lebar ke arah idolanya itu. “Selamat pagi!
Aku senang kakak belum berangkat. Ini, aku buatkan makanan untukmu,” katanya,
menyorongkan kotak bekal makanan ke arah Ye-sung.
“Eh,
aku sudah pernah bilang, kau tak perlu merepotkan diri seperti ini,” kata
Ye-sung tak enak hati.
“Tidak,
aku melakukannya dengan senang hati karena ini kubuat khusus untukmu,” bantah
Hae-sa.
“Ehm…
baiklah, terima kasih,” gumam Ye-sung, mengulurkan tangan untuk menerima bekal
tersebut. “eh!?” seru Ye-sung terkejut, ketika tiba-tiba seorang gadis lain
keluar dari persembunyiannya di balik dinding untuk memotret penyerahan bekal
tersebut.
Hae-sa
yang memang sudah menanti hal tersebut—karena si fotografer tak lain dan tak
bukan adalah sahabatnya sendiri, Karin—tersenyum lebar ke arah kamera sambil
membentuk tanda V dengan jarinya.
“Yak,
sudah,” ucap Karin, gadis blasteran Korea-Inggris itu mengamati hasil fotonya
sambil mengunyah permen karet.
“Kakak
harus memakannya ya,” pinta Hae-sa.
“Ah,
ya. Sekali lagi terima kasih,” ucap Ye-sung, sambil menyunggingkan senyum yang
menghipnotis Hae-sa.
Selagi
sahabatnya mengobrol dengan Ye-sung, Karin yang tak berminat pada idola satu
itu, menjauh dan mengamati pintu-pintu apartemen lain yang tertutup.
Didengarnya dari Hae-sa, banyak idola yang tinggal di gedung apartemen ini. dan
katanya lagi, Jessica SNSD dan adiknya, Krystal f(x), bertetangga dengan
Ye-sung.
Di
apartemen nomor berapa mereka tinggal? batin Karin penasaran. Anak-anak pria
disekolahnya banyak yang mengidolakan dua bersaudara itu. bila ia bisa
mendapatkan foto mereka, ia yakin akan mendapat banyak uang dari para fanboy
yang membeli foto-foto tersebut.
Klik.
Tiba-tiba sebuah pintu di ujung lorong sebelah kiri terbuka. Buru-buru Karin
bersembunyi dan mengintip. Senyum merekah di bibirnya, karena secara tak
terduga melihat Jessica yang mengenakan pakaian olahraga keluar dari sana. Rupanya
ini hari keberuntunganku, batinnya puas. Diam-diam dipotretnya gadis idola para
pria itu. tapi senyum itu berubah menjadi ketercengangan ketika dilihatnya
sesosok pria yang juga berpakaian olahraga ikut keluar dari sana.
“Bukankah
itu… Taec-yeon... 2PM?” gumam Karin pada diri sendiri.
“…sampai
jumpa besok,” sayup-sayup Karin mendengar perkataan Taec-yeon pada Jessica yang
tengah tersenyum lembut pada pria itu.
Mengikuti
nalurinya, bahkan ditengah kebingungannya, Karin terus mengambil gambar
pasangan tersebut. Ia nyaris tersedak permen karetnya sendiri ketika melihat
Taec-yeon mengecup pipi Jessica sebelum akhirnya benar-benar pergi.
“Mereka…
pacaran…?” bisik Karin tak percaya. Tapi perlahan, sebuah seringai terukir di
wajahnya. Ini gossip panas! Berapa yang akan kudapat bila menjualnya ke media?
Otak bisnis Karin berputar cepat. Begitu asyik dengan pikiran tersebut,
sampai-sampai ia tak menyadari Hae-sa telah berada di sisinya.
“Ayo
kita pergi,” ajak Hae-sa, menggandeng lengan Karin. “Kak Ye-sung, sampai jumpa
nanti!” tambahnya, berseru dan melambai ke arah Ye-sung.
“Siapa
gadis tadi?”
“Ya
Tuhan! kau mengejutkanku!” seru Ye-sung, menggerutu ketika tiba-tiba kepala
Juny menyembul di celah pintu yang terbuka. Kelabakan melihat sekelilingnya,
didorongnya kepala Juny masuk ke dalam rumah. “Jangan sampai ada yang
melihatmu!” omel Ye-sung.
Juny
menepis tangan pria itu dengan kasar. “Siapa gadis tadi?” ulangnya.
“Tetangga
dan salah satu penggemarku,” jawab Ye-sung. “sudahlah, aku pergi. Jangan sampai
kau terlihat orang. bila ada yang datang dan mengetuk pintu, tak usah kau
hiraukan, mengerti?”
“Aku
bukan anak-anak atau orang bodoh,” balas Juny dingin.
“Baguslah.
Ya sudah kalau begitu,” komentar Ye-sung sambil berbalik pergi.
“Tunggu.
Itu. bekal? Kau mau membawanya?” tanya Juny.
“Tentu
saja. Sudahlah. Tutup pintunya,” perintah Ye-sung, sebelum benar-benar pergi.
“Dia
tak mau memakan sarapan buatanku, tapi menerima bekal buatan gadis tadi!?”
geram Juny sambil membanting pintu dengan keras.
-
SM Entertainment -
Entah keberapa ratus kalinya, Ye-sung
mendesah sambil memasuki lobby gedung SM Entertainment, memikirkan nasibnya sekarang ini.
Ryeo-wook
dan Eun-hyuk yang tengah mengobrol di dekat tangga, melihat kedatangannya dan
memanggil pria itu.
“Oh,
kalian,” sapanya tak bersemangat.
“Ada
apa denganmu? Di telepon tadi kau juga aneh. Bahkan salah menyebut namaku,”
komentar Eun-hyuk.
Ye-sung
menatap wajah polos kedua adik Super Junior-nya itu sambil sekali lagi
mendesah. “Kalian tak tahu apa yang aku hadapi…” gumamnya dramatis.
“Memangnya
ada apa?” tanya Ryeo-wook.
“Kuceritakan
pun kalian tak akan percaya,” sahut Ye-sung muram.
“Lihat,
ada orang asing,” kata Eun-hyuk tiba-tiba, menatap ke arah pintu masuk.
Mendengar
kata “orang asing” segera membuat Ye-sung waspada. “Eh? Bukankah itu si Gadis Sapu
menyeramkan yang semalam di café?” timpal Ryeo-wook, meyakinkan kekhawatiran
Ye-sung.
Perlahan,
Ye-sung menoleh, dan melihat Juny, mengenakan gaun hitamnya gothic-nya, lengkap
dengan membawa sapu, berderap ke arahnya. sial, batin Ye-sung.
“Siapa
dia?” tanya Eun-hyuk pada Ryeo-wook.
“Penggemar
kak Ye-sung,” jawab Ryeo-wook polos, tak menyadari delikan Ye-sung.
Penggemar
macam apa yang menerorku dengan sihirnya!? keluh Ye-sung dalam hati. “Kenapa
kau kemari?” bisiknya saat Juny sampai di hadapannya.
“Aku
bosan dirumah,” jawab Juny enteng.
“Bukankah
kau sudah berjanji akan merahasiakan keberadaanmu!?”
“Aku
berjanji akan merahasiakan tentang kita yang hidup bersama, tapi aku tidak
berjanji tak akan mengikutimu. Kapan kita akan saling mengenal dan siap menikah
bila aku dirumah saja dan kau berkeliaran!?”
“Tetap saja, kau tidak boleh—“ Ye-sung
terdiam ketika melihat Juny mengeluarkan tongkat sihir dari saku tersembunyi di
gaunnya. “Tak adil bila kau terus mengancamku dengan cara seperti ini,” desis
Ye-sung.
“Ada
apa?” tanya Eun-hyuk, mendekati mereka.
Ye-sung
menatap Juny, yang balas menatapnya dengan menantang. Ia mendesah. “Tidak
apa-apa. ayo, kita mulai berlatih,” ajaknya.
“Eh?
Penggemarmu ini ikut?” tanya Eun-hyuk kaget, melihat Juny mengekori Ye-sung.
“Dia—“
“Kenapa?”
tantang Juny, menatap Eun-hyuk dengan tajam. “Bermasalah untukmu bila aku di
sini?”
Sekujur
tubuh Eun-hyuk langsung merinding ngeri. “Dia asistenku,” kata Ye-sung cepat,
mencari alasan. “Ayolah, kita mulai latihannya,” ajaknya.
“Kau benar-benar merekrutnya sebagai
asistenmu?” tanya Han Geng ketika latihan hari itu usai, sambil melirik Juny
yang duduk di pojokan ruang latihan.
Ye-sung
berdeham. “Begitulah.”
“Kau
bisa mempercayainya? Bukankah baru kemarin kalian bertemu?” tanya Ryeo-wook.
“Dia
sebatang kara. Aku hanya ingin menolongnya,” karang Ye-sung.
“Woah…
tak kusangka hatimu begitu baik,” komentar Shin-dong.
“Juny!”
panggilnya buru-buru, tak ingin membahas masalah ini lebih jauh, takut
membongkar kebohongannya sendiri. “Ayo kita pergi,” ajaknya.
“Kalian
mau ke mana?” tanya Sung-min.
“makan
siang.”
“Kau
tak mengajak kami juga?”
“Lain
kali saja,” jawab Ye-sung lagi. “Ayo,” ditariknya tangan Juny untuk segera
keluar dari ruang latihan.
“Kak
Ye-sung.” Suara bernada lembut yang memanggil namanya itu membuat Ye-sung
menghentikan langkahnya dan segera melepas pegangannya di tangan Juny. Ia
mengenali suara itu.
“Yoo-na,”
sapa Ye-sung amat sangat ramah. Terpesona melihat senyum di wajah cantik member
SNSD itu.
“Maaf,
kemarin aku tidak sempat membalas SMS-mu karena terlalu sibuk,” kata Yoo-na
manis.
Sedekat
ini dengan gadis yang ditaksirnya membuat Ye-sung gugup dan bersikap malu-malu.
Dan semua itu diperhatikan oleh Juny yang berdiri diam di sisinya.
“Tak
apa. aku mengerti kesibukanmu,” sahut Ye-sung.
“Terima
kasih atas kiriman bunganya,” kata Yoo-na, masih dengan tersenyum.
“Kau
suka?” tanya Ye-sung penuh harap.
Yoo-na
mengangguk. “Sangat.”
Ye-sung
tersipu malu. “Syukurlah…”
Tak
bisa bertahan lebih lama melihat kemesraan menjijikan dihadapannya itu, Juny
merangsek maju, menggeser Ye-sung ke belakangnya dan berhadapan dengan Yoo-na.
memang, ia tidak menyukai Ye-sung. Memang, ia tak menginginkan Ye-sung. Tetapi
pria itu telah berjodoh dengannya. pria itu akan menjadi suaminya. Tak akan
dibiarkannya perempuan kurus kering dihadapannya ini merebut miliknya.
“Eh?
Kak, siapa ini?” tanya Yoo-na pada Ye-sung.
“Dia—“
“Aku
ada di hadapanmu. Bila ada yang ingin kau tanyakan, langsung katakan padaku,”
sergah Juny dingin.
Tak
terbiasa mendapat sikap kasar seperti itu, Yoo-na mendengus. Diamatinya
penampilan Juny, dan tertawa geli merendahkan sebelum cepat-cepat menahan
tawanya. Penyuka cosplay rupanya? mungkin cukup cantik, tapi gadis
semenyeramkan ini bukan apa-apa dibandingkan denganku, pikir Yoo-na percaya
diri.
“Penggemar
yang menguntitmu, ya? Kenapa tidak menyuruh satpam mengusirnya?” masih menolak
bicara dengan Juny, Yoo-na kembali bertanya pada Ye-sung.
“Eh,
itu—“
Juny
tersenyum jahat sambil bersedekap. Sejujurnya, melihat senyum itu, juga “aura
kegelapan” yang menyelubungi Juny, nyali Yoo-na pun sedikit menciut, namun
kenyataan bahwa mereka berada di SM Entertainment, wilayah kekuasaannya, dengan
Ye-sung yang diketahuinya mengaguminya, ia merasa lebih aman.
“Aku
ingin lihat bagaimana cara satpam itu mengusirku, bila Ye-sung sendiri
menginginkanku di sisinya,” balas Juny.
Yoo-na
menggelengkan kepalanya sambil tersenyum prihatin palsu. “Terkadang memang ada
fans yang mengalami delusi parah,” komentarnya.
Juny
berkacak pinggang, berniat meladeni adu mulut ini lebih lanjut, namun Ye-sung
yang sudah tegang sejak tadi, takut Juny kelewat geram dan mengutuk Yoo-na
dengan sihirnya, berpikir gerakan Juny itu untuk mengambil tongkat sihir dari
dalam saku gaunnya. Cepat-cepat ditariknya Juny, dan merangkul gadis itu,
dengan terpaksa, dihadapan Yoo-na, demi menenangkan Juny.
“Dia
asistenku,” kata Ye-sung pada Yoo-na. “Ah, maaf tak bisa lama-lama mengobrol
denganmu. Aku harus mengurus seseuatu. Permisi.”
“Oh…
ya,” gumam Yoo-na, masih kelewat terkejut melihat Ye-sung bisa merangkul gadis
lain dihadapannya, padahal selama ini pria itu terus berusaha mencari
perhatiannya, dan kenyataan bahwa gadis asing tadi ternyata asisten Ye-sung…
“sejak kapan dia berganti asisten?” gumamnya pada diri sendiri.
Setelah cukup jauh dari Yoo-na, Ye-sung
menarik tangannya dari bahu Juny sambil menghela napas lega. Sementara itu,
Juny diam membisu. Tangannya terangkat menyentuh bahu kirinya yang dirangkul
Ye-sung tadi. selain Ayah dan kakak laki-lakinya, Kennard, tak pernah ada pria
yang menyentuhnya seperti tadi.
“Apa
kita makan di atap saja?” tawar Ye-sung, mengangkat kotak bekal pemberian
Hae-sa sebagai penegasan tentang apa yang akan menjadi menu makan siang mereka.
namun bobotnya yang terasa ringat, membuat Ye-sung curiga. Dibukanya kotak
bekal itu, dan menemukan isinya kosong. “Ke mana hilangnya makanan di sini!?”
Tersadar
dari lamunannya, Juny melirik Ye-sung yang kebingungan. “Kuberikan pada salah
satu pemuda yang katanya trainee,” jawabnya tenang.
“Apa!?”
Juny
mempersempit jarak diantara dirinya dan Ye-sung. “Dengar ini baik-baik, karena
aku hanya memperingatkan sekali saja,” katanya dingin. “Kau jodohku. Calon
suamiku. Kau tak boleh menatap, menyentuh, atau menyukai gadis lain. Dan hanya
masakankulah yang akan kau makan mulai saat ini, bukan dari wanita lain.”
“Apa—“
“Kau
terikat denganku,” sela Juny tegas tak terbantahkan, menusuk dada pria itu
dengan tongkat sihirnya, membuat Ye-sung berjengit dan refleks melangkah mundur.
“Bila tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu… atau pada gadis lain itu…
jangan pernah berani berselingkuh dariku.”
To Be Continued…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar