F A T E . 01
by Destira A F
by Destira A F
Prolog
- 22 Juni -
- Juny Killarney
- Sloir School - Clonmel, Irlandia -
“Selamat
ulangtahun, Juny!” ucap teman-teman dan orang-orang yang mengetahui ini hari
ulangtahunku.
Dan,
“Selamat atas kelulusanmu,” ucap para guru dan adik-adik kelasku, karena ini
juga bertepatan dengan hari kelulusanku dari Sloir School. Sekolah sihir khusus
wanita.
“Ya,
terima kasih,” sahutku sopan seadanya pada mereka sambil terus berjalan cepat
menuju aula. Tiga orang teman seangkatanku, yang juga telah menjadi sahabatku
selama bertahun-tahun, ikut mempercepat langkah mereka mengiringiku.
Nyonya
Fitzpatrick dan semua gadis yang lulus hari ini telah berada di sana.
Aku,
Heather, Ellen, dan Angelia mengambil tempat di deret terdepan, menggusur keempat
gadis lain yang telah lebih dulu duduk di sana. Senyum sinis tersungging di
bibirku saat melihat mereka menurut walau dengan menggerutu pelan. tak ada satu
pun murid yang berani melawan keinginanku dan ketiga temanku. Aku dan Heather
adalah penyihir terbaik Sloir School tahun ini—aku di urutan pertama, dan dia
di urutan ke dua. Para pembenci kami harus berpikir ratusan kali sebelum berani
melawan gengku.
Nyonya
Fitzpatrick memperbaiki letak kacamata berujung runcingnya sambil mengamati
ruangan. “Yak, semua sudah berkumpul. Sebaiknya kita mulai sekarang,” katanya,
lalu melambaikan tongkat sihirnya yang mengkilap sempurna ke dinding berlapis
tirai beledu merah darah di belakangnya. Tirai tersebut tersibak membuka dan
memperlihatkan sebuah cermin antic berukir emas berukuran raksasa.
Aku,
Heather, Ellen, dan Angelia saling bertukar senyum. Rasa tak sabar dan
penasaran menyelubungi kami saat ini. seperti yang mungkin juga dialami
murid-murid lain setelah dua belas tahun menuntut ilmu di sekolah ini. sekaranglah
saatnya.
“Selamat
untuk kalian para siswi Sloir yang lulus tahun ini,” kata Nyonya Fitzpatrick
lantang dari atas panggung. Dengan gerakan anggun wanita setengah baya yang
mengajar ilmu ramalan itu duduk di sebuah bangku di sisi cermin. “kelulusan ini
membuktikan kualitas kalian sebagai penyihir dewasa. Tapi seperti yang semua
penyihir tahu, untuk mendapat kekuatan lebih, kaum kita harus bersatu dengan
pasangan takdirnya—“
Benar.
Saat bersatu dan menerima cinta dari pasangan yang telah ditakdirkan, seorang
penyihir akan mendapat energi lebih yang memungkinkannya untuk lebih maksimal
dalam melakukan segala kegiatan sihir. Konon katanya, semakin besar dan
mendalam cinta yang diberikan pasangan takdir, semakin besar pula energy sihir
yang didapat si penyihir.
Aku
tersenyum membayangkannya. Ya, dengan cinta pasangan takdirku, aku akan lebih
kuat dari sekarang. tentu saja, untuk penyihir berbakat sepertiku, pasangan
takdirku pastilah bukan orang sembarangan. Dia pastilah seseorang yang kuat dan
hebat. Sepertiku.
“…sudah
menjadi tradisi Sloir untuk menggunakan Cermin Jodoh demi melihat siapa
pasangan takdir para siswi yang telah lulus dan menginjak usia dewasa,” kata
Nyonya Fitzpatrick. “baiklah, tak usah bertele-tele, kita mulai saja. aku yakin
kalian pun sudah tak sabar,” lanjutnya sambil tersenyum.
Dengan
ketidaksabaran yang membumbung semakin tinggi, aku menunggu giliran sembari
menonton teman-teman seangkatanku satu per satu menghadap Cermin Jodoh yang
menampilkan sosok pasangan takdir mereka. 99% ramalan Cermin Jodoh selalu
tepat.
Aku
tertawa geli sedikit mencemooh ketika Ellen ternyata berjodoh dengan Maximilan
O’connor, si penyihir bertubuh besar dan bertampang garang namun dungu dari
sekolah sihir khusus pria. dan tersenyum kasihan pada Angelia yang berjodoh
dengan guru Ramuan kami, seorang duda tanpa anak yang penggugup.
“Apa
kau tidak cemas memikirkan siapa pasangan takdirmu?” tanya Heather.
“Tidak
juga,” sahutku angkuh. “Karena aku yakin pasangan takdirku adalah seseorang
yang sehebat aku.”
Heather
tersenyum sinis. “Bila bukan karena aku sedang sakit ketika ujian Ilmu
Pertahanan Sihir, dan melakukan sedikit kekacauan ketika pelajaran Ramuan,
kurasa akulah yang akan menempati posisi pertama—“
“Tapi
kau memang sakit, dan kau memang mengacaukan ramuan buatanmu sendiri,” selaku
merendahkan. Kami memang bersahabat, tapi kami juga saingan. “Terima sajalah
bahwa aku memang lebih hebat darimu.”
“Heather
Dunnlam!” panggil Nyonya Fitzpatrick.
Sambil
melayangkan tatapan kesal padaku, Heather berjalan menuju panggung, menghadap
Cermin Jodoh.
“Kira-kira
siapa menurutmu pasangan takdir Heather?” tanya Ellen.
Aku
mengedikkan bahu acuh tak acuh. “Entahlah. Seseorang sepertinya mungkin? Yang
cukup hebat namun bukan yang terhebat.”
Karena
yang terhebat, penyihir idolaku, Trevor Donovan—yang menjadi legenda sekolah
sihir pria karena kehebatannya dapat terus mempertahankan gelar juaranya dalam
pertandingan sihir tingkat dunia—pasti akan menjadi pasangan takdirku...
“Ya
Tuhan! Trevor Donovan!”
Seruan
histeris para gadis di sekelilingku menyadarkanku dari lamunan. Mereka menyebut
Trevor? Ada apa… mataku menatap ke depan. Ke cermin besar di atas panggung. Di
sana, di cermin itu… terlihat Trevor-ku yang berambut pirang, bermata biru, dan
bertubuh tinggi besar layaknya pejuang tangguh, tengah berolahraga kecil
menaklukkan naga liar bersisik hitam yang bertubuh luar biasa besar. Deretan
gigi putih bersih rapinya terlihat ketika pria itu tersenyum puas dan bangga
atas keberhasilannya. Trevor melambai-lambaikan tangan ke arah para penonton
sambil terbang di atas punggung si naga hitam.
Tidak…
tidak mungkin… penyihir pria perkasa dan terhebat itu seharusnya milikku!
Untukku! kenapa justru Heather yang…
Darahku
seolah mendidih ketika Heather membalikkan tubuhnya untuk menatapku penuh
kesombongan. Ini tidak benar… tidak mungkin….
“Masih
ada pria lain yang sama hebatnya dengan Trevor,” kata Angelia menenangkan.
Aku
mencoba menenangkan diri. Benar. Pasti ada pria yang sama hebatnya dengan
Trevor yang ditakdirkan untukku. mungkin yang lebih hebat!?
“Juny
Killarney!”
Aku
segera berdiri dan menaiki anak tangga panggung. Heather menepuk pundakku saat
kami berpapasan. “Maaf, aku yang mendapat ‘piala utama’nya.”
Kucoba
untuk menyunggingkan senyum. Sulit. Aku tak terbiasa dikalahkan. Tidak, aku
belum kalah. Pasti ada seseorang yang lebih hebat dan perkasa daripada Trevor
yang merupakan pasangan takdirku.
“Itu
belum pasti,” sahutku singkat.
Rasa
gugup yang asing melanda diriku ketika berdiri di depan cermin raksasa
tersebut. bagaimana bila pasangan takdirku tak lebih baik dari Trevor?
Bagaimana bila…
Juny Killarney… Juny Killarney… Juny
Killarney…
Semua
pikiran yang meresahkanku itu segera hilang dari benakku ketika merasakan
hembusan kuat angin yang berasal dari Cermin Jodoh menerpaku dan suara bisikan
lembut menyebut namaku sebanyak tiga kali.
Aku
menutup mata. sebentar lagi… ketika hembusan angin itu perlahan mereda kemudian
akhirnya hilang sepenuhnya, kubuka kembali kedua mataku. Dan di sanalah dia…
pasangan takdirku… seorang pria… asia? Berambut hitam berantakan, bermata
sipit, dan berukuran tubuh biasa saja—bukan apa-apa bila dibandingkan Trevor
Donovan—tengah bermain-main bersama seekor kura-kura di sebuah kamar…
Tidak.
tidak mungkin… ini pasti kesalahan. Pasti ada kesalahan. Tidak mungkin dia
pasangan takdirku!
Aku
menggeram kesal saat mendengar tawa mengejek para siswi di belakangku. Saat
kulirik, bahkan Heather, Ellen, dan Angelia pun menertawakanku. Brengsek!
“Nyonya
Fitzpatrick! Ini pasti kesalahan! Dia… dia pria asia! Dan yang terpenting, dia
bukan penyihir! Aku tak melihat aura sihir dalam dirinya!” protesku, menunjuk
cermin.
Guru
Ramalan itu mendesah. “Yeah, tapi memang bukan hal baru seorang penyihir
ternyata berjodoh dengan orang biasa.”
Itu
benar, tapi… “Tapi tidak mungkin aku berpasangan dengan seseorang yang bukan
penyihir!”
“Dan
kenapa bisa begitu?” sahut Nyonya Fitzpatrick dingin. “Semua penyihir memiliki
kemungkinan berpasangan dengan yang non penyihir. Ini hal biasa. Tak usah
mempersulit hal ini, Nona Killarney.”
“Tapi…
tapi…”
Mataku
kembali terarah pada Cermin Jodoh ketika mendengar suara pria asia itu
berbicara pada kura-kuranya. Dengan lambaian tongkat sihirnya, Nyonya Fitzptrick
membuat kami semua mengerti bahasa yang digunakan oleh pria itu. aku tetap tak
sudi mengakuinya pasangan takdirku.
“…hmm,
Ddangkoma?” tanya pria itu pada kura-kuranya. Demi Tuhan, nama macam apa itu!?
“kau pasti kesepian setiap aku pergi bekerja. Seharusnya aku mencarikan Mama
untukmu, bukan begitu? Nah, lihat, aku punya foto-foto gadis cantik, kau pilih
yang mana? Yang ini,” katanya sambil mengacungkan foto di tangan kirinya.
“adalah Moon Geun-young, dan ini,” dia mengacungkan foto di tangan kanannya.
“adalah Yoo-na. siapa yang kau pilih untuk menjadi Mama, he?”
Tak
tahan lagi dengan kekonyolan pria itu, aku berbalik dan menuruni panggung
dengan langkah cepat. Aku tak peduli. Bahkan bila memang harus melajang hingga
akhir hayat, bahkan bila memang tak dapat menjadi lebih kuat. Aku tak
menginginkan pria asia konyol semacam itu menjadi pasangan takdirku! Dia hanya
akan membuatku ditertawakan!
Emosiku
semakin terpancing saat melihat senyum mengejek Heather. Gadis itu mengeluarkan
tongkat sihirnya dan mengarahkannya ke Cermin Jodoh. Apa yang dilakukannya?
Suara
tawa yang tadinya sempat mereda kini menjadi kembali riuh. Ada apa? aku memutar
tubuh, dan melihat selembar fotoku tergeletak di lantai kamar pria itu. dekat
dengan kakinya. Sialan kau, Heather!
“Eh?
foto siapa ini?” tanya pria itu, ingin mengambil fotoku, tetapi kura-kuranya
yang bernama aneh itu lebih dulu menahannya dengan kakinya. “Kau menyukai gadis
ini, Ddangkoma?”
“Kak
Ye-sung! Aku pulang!” tiba-tiba masuk seorang pria asia lain ke dalam kamar.
pria itu bahkan lebih aneh dari si pria yang tidak kuakui sebagai pasangan
takdir itu. begitu imut dan mungil! Dia pria atau wanita!?
“Ryeo-wook,
apakah foto gadis ini milikmu?” tanya pria bernama Ye-sung itu pada temannya
sambil menunjuk fotoku yang masih ditahan oleh si kura-kura.
“Tidak.
aku tidak mengenali foto itu. mungkin punya yang lain,” jawab pria bernama
Ryeo-wook santai. “Eh, coba kulihat,” dia berusaha menarik fotoku dari bawah
kaki si kura-kura, namun binatang itu justru lebih menyembunyikan foto tersebut
dengan tubuhnya. “Wah, sepertinya Ddangkoma menyukai foto gadis itu,”
komentarnya, membuatku merinding ngeri.
Ye-sung
menyeringai—sejujurnya ada aura menggetarkan aneh ketika aku melihat
seringaiannya—menatap kura-kuranya. “Hmm… sepertinya Ddangkoma sudah memutuskan
siapa yang dia inginkan menjadi Mama-nya. Bukan begitu, Ddangkoma?”
Tidak…
tidak… Demi Tuhan, aku tidak sudi!
“Selamat,
Juny,” ejek Heather. “Kau menjadi Mama Ddangkoma yang menggemaskan.”
Aku
menggeleng kuat. Tidak. bagaimana bisa? Heather yang selalu menjadi nomor 2
bisa mendapatkan Trevor Donovan yang kuat, hebat, dan tangguh, yang hobinya
dikala waktu senggang adalah menaklukkan naga… sementara aku? aku justru
mendapat pria non penyihir bermata sipit yang hobinya di waktu senggang adalah
mengobrol dan mencarikan “Mama” bagi kura-kura jelek bernama aneh!?
“TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKKK!!!”
teriakku sekencang-kencangnya, membuat bumi bergetar dan langit bergemuruh.
***
Chapter
1
1 tahun kemudian…
- Seoul,
Korea -
“Tidurlah, sudah malam,” perintah
seorang wanita pada putranya yang berusia tujuh tahun, sembari membereskan meja
makan.
“Ya,”
sahut si anak tanpa bergerak sedikitpun dari sofa di depan TV, asyik menonton
acara kartun favoritnya yang berkisah tentang gadis-gadis penyihir.
“Ah,
sebelum kau tidur, tolong ibu, periksa apakah pintu menuju balkon sudah
dikunci,” perintah ibunya lagi.
“Ya,”
sahut si anak. Karena acara kartunnya habis, maka dengan cepat ia melaksanakan
perintah ibunya untuk mengecek pintu kaca geser tersebut. “Oh!” serunya
terkejut ketika melihat seorang wanita berpakaian serba hitam melayang di udara
dengan menaiki sapu terbang. “Penyihir! Ibu! Ada penyihir menaiki sapu
terbang!” seru anak itu kegirangan.
Mendesah
lelah, si ibu yang menganggap anaknya berkhayal karena terlalu banyak menonton
TV, menghentikan pekerjaannya, dan menarik putranya itu untuk dibawa ke kamar.
“Ya, ya, tapi kau harus tidur sekarang,” perintahnya tegas.
“Tapi,
Bu—“
Juny Killarney, gadis penyihir yang baru
saja melintas dan terlihat oleh si bocah kecil tadi, dengan santai mengendarai
sapu terbangnya, mencari keberadaan pria yang diramalkan sebagai jodohnya.
Tongkat
sihirnya bergetar dan mengarah ke kiri, menuntun gadis itu untuk berbelok.
hingga sampailah ia di kediaman pria yang di carinya. Melalui pintu kaca geser
yang mengarah ke balkon apartemen pria itu, Juny mengamatinya, yang kebetulan
sedang duduk di ruang tengah, bersama teman-temannya.
Juny
mencengkeram gagang sapunya erat. Teringat olehnya acara reuni yang dihadirinya
siang tadi. semua teman seangkatannya kebanyakan hadir bersama pasangan
masing-masing. Namun bukan hal itu yang mengganggunya, melainkan kehadiran
Heather dan Trevor Donovan yang merupakan pria pujaannya. Pria yang dulu pernah
dipikirnya akan menjadi jodohnya.
Sesaat,
melupakan tujuannya datang ke tempat itu—untuk melihat secara langsung
“jodohnya” dan mempertimbangkan seberapa pantas pria itu untuk menjadi
pasangannya—pikiran Juny justru tersita pada kejadian di acara reuni tadi.
“Kau
datang sendiri, Juny?” tanya Heather.
“Kelihatannya
bagaimana?” sahut Juny, hatinya terbakar api kecemburuan, melihat Heather
dengan mesra bersandar pada tubuh besar berotot Trevor.
“Oh,
jadi kau belum juga bersama dengan pria Asia lucu itu?” olok Heather.
“Pria
Asia?” tanya Trevor.
“Kau
tidak tahu, Sayang? Menurut ramalan Juny berjodoh dengan seorang pria Asia non
penyihir—“
“Seingatku
dulu kau tak banyak omong seperti sekarang, Heather,” sela Juny dingin. “Ah,
ngomong-ngomong, kudengar kau gagal mengikuti ujian masuk kerajaan?”
Nampak
jelas bagaimana malu dan tersinggungnya Heather karena kegagalannya diungkit,
namun Juny tak peduli. Gadis itu yang lebih dulu mencari masalah denganku,
batinnya.
“Kudengar
kau lulus dengan nilai tertinggi. Selamat, Juny!” puji Trevor, yang diikuti
oleh pujian-pujian dari Ellen dan Angelia, sahabat-sahabat Juny yang lain.
“Kami
dengar kau akan bekerja untuk Putri Gracella?” tanya Ellen antusias,
menyebutkan nama Putri Mahkota kerajaan sihir Irlandia. “Kau memang selalu
menjadi yang terbaik, Juny! Bukan begitu, teman-teman?”
“Benar,”
sahut Angelia sembari tersenyum tulus.
Senang
dengan segala pujian yang diterimanya, Juny tersenyum angkuh. “Itu bukan
apa-apa,” katanya. “Tapi, mengherankan kau tak dapat lulus dari tes semudah
itu, Heather. Bukankah dulu kau selalu hanya setingkat dibawahku? Kupikir kali
ini pun akan begitu… ternyata… terjadi kemunduran, he?”
Melihat
kemarahan yang berusaha ditahan oleh kekasihnya, Trevor berdeham sembari
mengelus lengan Heather untuk menenangkan. Juny menatap tindakan kasih sayang
itu dengan sakit hati. menyadari hal itu meningkatkan kembali rasa percaya diri
Heather.
“Perhatianku
sedikit teralihkan belakangan ini,” jawabnya dengan nada menggoda sembari
melirik Trevor yang tersenyum manis padanya.
Ellen
dan Angela terkikik-kikik. “ku dengar kalian sedang mempersiapkan pernikahan,
apakah benar?” tanya Angela.
“Cepat
sekali berita menyebar,” komentar Heather sombong.
“Menikah!?”
ucap Juny pada akhirnya, terlalu shock mendengar berita tersebut. “Secepat itu!?”
“Kenapa?
Bukankah ini sesuatu yang lumrah? Hanya karena kau belum juga memulai hubungan
dengan pria Asia itu, bukan berarti kami semua bergerak lamban sepertimu,
Juny,” sahut Heather menyindir. “Lagi pula, bila sudah saling mencintai apa
yang harus ditunggu?”
“Jelek
sekali!” suara tawa yang menggelegar dari dalam apartemen yang diintainya
menyadarkan Juny kembali ke masa sekarang.
Di
dalam ruangan itu, Ye-sung, sang member Super Junior yang terkenal, bersama
teman-temannya tengah bercanda dan melakukan permainan. Sebagai yang kalah,
Ye-sung dan Ryeo-wook harus bersedia wajahnya dihiasi dengan make up dan
rambutnya diikat sesuka hati dengan pita warna-warni oleh member lain.
Mengamati
semua itu membuat Juny semakin tertekan dan marah di saat bersamaan. Kenapa ia,
Juny Killarney, putri salah seorang Jendral terhebat kerajaan sihir Irlandia, yang
dikenal sebagai penyihir muda paling berbakat abad ini, mendapat jodoh seperti
Ye-sung!?
Pria
Asia non penyihir yang aneh… konyol dan menyedihkan! batin Juny kecewa.
Bagaimana mungkin dia pasrah saja diperlakukan seperti itu!? kenapa dia tidak
melawan dijadikan bahan ejekan seperti itu!? tak ada satu pun pria bangsanya
yang akan sudi didandani seperti wanita begitu… kecuali dia memiliki kelainan!
pikir Juny panik, tak memahami bahwa Ye-sung dan member Super Junior lainnya
hanya sedang bercanda.
“Demi
Tuhan! Kenapa orang seperti itu yang harus menjadi jodohku!?” desis Juny gusar
sebelum melesat pergi meninggalkan tempat itu.
Sementara
itu, di dalam apartemennya, Ye-sung dan Ryeo-wook saling menertawakan hasil
dandanan masing-masing. namun sesuatu yang berkelebat di luar apartemennya
menarik perhatian Ye-sung.
“Eh?”
ucapnya terkejut.
“Ada
apa?” tanya Ryeo-wook, ikut melihat ke arah balkon.
Ye-sung
menatap teman-temannya dengan ekspresi setengah merenung. “Sepertinya aku
melihat wanita dengan sapu terbang.”
3 bulan kemudian…
-
Kediaman Keluarga Killarney - Clonmel,
Irlandia -
“Ibu! Ini tidak masuk akal!” protes
Juny.
“Kau
yang tak masuk akal!” balas Nyonya Killarney galak. “Kau tahu tradisi bangsa kita.
Setelah mencapai usia dewasa, para gadis harus secepatnya menikah bila tak
ingin menjadi bahan pergunjingan! Kau mau disebut sebagai gadis bernasib buruk?
Gadis tak laku? Gadis pembawa sial yang harus dihindari!? Kau tahu ada banyak
julukan buruk bagi gadis-gadis yang lambat menikah!”
“Aku
tak peduli dengan gunjingan orang-orang bodoh itu—“
“Tapi
aku dan seluruh keluarga Killarney peduli,” potong Nyonya Killarney. “Sudah satu tahun lebih, kau bahkan belum
memulai pendekatan dengan pria yang diramalkan berjodoh denganmu! ”
“Mendekatinya!?”
seru Juny dengan mata terbelalak ngeri. “Lebih baik aku—“
“Jangan
mempermalukan keluarga ini,” sela Nyonya Killarney tajam. “Aku tak mau tahu
bagaimana caranya, paling lambat tahun depan kau harus segera menikah dengannya!”
Di
dalam hatinya Juny mengutuki kebiasaan atau peraturan tak tertulis bangsanya
yang mengharuskan para gadis menikah secepatnya setelah mencapai usia dewasa.
bila saja jodohnya adalah Trevor Donovan, tentu saja Juny tak akan keberatan,
tetapi… harus menikah dengan pria Asia aneh itu… memikirkannya saja membuat
bulu kuduk Juny berdiri.
“Dia
tak sebanding denganku. Aku—“
“Memangnya
kau pikir sehebat apa dirimu, Putriku?” sindir Nyonya Killarney. “Hah… ini salah
ayahmu yang mewariskan kesombongannya padamu,” keluhnya.
“Aku
tidak menyombong, hanya mengungkapkan fakta. Pria seaneh itu tidak pantas
untukku!”
Malas
meneruskan perdebatannya dengan putrinya, Nyonya Killarney mengeluarkan tongkat
sihir dari kantung tersembunyi di gaunnya, dan mengucapkan mantra. Dalam
sekejab sebuah mantel merah marun dan sapu terbang milik Juny melayang
menghampirinya. Diserahkannya kedua benda tersebut pada putrinya yang
kebingungan.
“Pergi
dan lakukan pendekatan dengan pria itu,” perintah Nyonya Killarney. “Dan jangan
harap kau bisa pulang bila belum melakukannya!”
“Ibu!
Kau tidak bisa seperti ini padaku! Putrimu sendiri!” protes Juny, ketika ibunya
mengusirnya keluar rumah. “Ibu! Ini tidak lucu!” jerit Juny dari luar rumahnya.
Dan sebelum ia sempat menggunakan sihir untuk kembali masuk, sebuah perisai tak
kasat mata hasil mantra ibunya telah menyelubungi rumah tersebut. Setiap kali
Juny berusaha mendekat, maka ia akan terpental jauh. “Ibuuu!!!”
- Stadion,
tempat konser Super Junior - Seoul, Korea -
Mantra pelacaknya menuntun Juny ke
tempat ini. tanpa menyadari pandangan heran dan penasaran orang-orang yang
melihat penampilannya, dengan serius Juny menatap sosok Ye-sung yang berada di
atas panggung bersama grupnya.
Dari
apa yang diamati dan didengarnya dari percakapan orang-orang di sekelilingnya,
Juny mendapat kesimpulan bahwa “jodohnya” itu rupanya semacam selebritis. Di
negrinya, keluarga Juny memiliki beberapa kenalan selebritis; penyanyi opera
kerajaan, dan semacamnya. Tapi…
“Aaa!!!
Si-won oppa!!! Aku cinta padamu!!!”
“Hyuk!!!
Lihatlah aku!!!”
“Dong-hae!!!
Waaa!!! Dong-hae oppa!!! Terima cintaku!!!”
Tapi
tak pernah dalam konser-konser kerajaan yang dihadirinya Juny melihat kegilaan
seperti ini dari para penontonnya. Hysteria menyelubungi seisi stadion besar
ini. apakah sebegitu hebatnya pria itu? batin Juny bertanya-tanya, dan mulai
berpikir bahwa bila memang benar, mungkin Ye-sung tak terlalu memalukan seperti
anggapannya semula.
Sayangnya
Juny kembali berubah pikiran seiring berjalannya konser tersebut. Saat para
member Super Junior berbincang-bincang sebelum bernyanyi, Ye-sung berdiri di
pinggiran, bukan di tengah sebagai pusat perhatian—berbanding terbalik dengan
diri Juny yang harus selalu menjadi yang utama dimana pun ia berada—dan tak banyak
bicara.
Ketika
Super Junior memulai konser dengan menyanyikan Bonamana, Juny terpesona melihat
koreografi dan alunan lagunya, namun sayang, ia tetap kecewa karena Ye-sung tak
mendapat banyak sorotan di depan, dan jelas gerakan tarinya pun tak sehebat
beberapa member yang lain.
Juny
mengamati dengan wajah cemberut. Pria itu memang tak sebanding denganku,
pikirnya kesal.
Waktu
berlalu dengan cepat, dan Super Junior telah menyanyikan beberapa lagu. Juny
yang bosan karena kecewa terhadap Ye-sung, memutuskan untuk pulang. Tak peduli
ibunya pasti marah. Walau dia harus tidur di luar, Juny tak peduli.
“Ye-sung
oppa!!!” seruan para penggemar yang membahana menghentikan langkah Juny. Ia
menoleh sedikit ke arah panggung, dan melihat pria itu kini seorang diri di sana,
tersenyum pada para penggemarnya.
“kalian
menantikan aku!?” seru Ye-sung, yang segera disambut seruan girang para
penggemarnya.
Melihat
reaksi orang-orang di sekelilingnya, Juny mengurungkan niatnya untuk pergi. Ia
ingin melihat sedikit lebih jauh kepantasan Ye-sung untuk jadi pendampingnya.
Today, i wander in my memory
I’m pasing around on the end of this way
You’re still holding me tightly, even though i can’t see you any
more
I’m losing my way again
Juny terpaku di
tempatnya, terhipnotis oleh suara Ye-sung. Ketika bernyanyi bersama grupnya
tadi, Juny tak terlalu memperhatikan bahwa ternyata suara pria itu seindah ini…
it can’t be if it’s not you
i can’t be without you
it’s okay if i’m hurt for a day and a year like this
it’s fine even if my heart’s hurts
yes because i’m just in love with you
Tanpa
benar-benar sadar, Juny menerobos lautan penggemar di depannya agar dapat
mencapai tempat terdekat dengan panggung. Agar dapat mengamati dan mendengar Ye-sung
lebih dekat…
my bruised heart
is screaming to me to find you
where are you?
can’t you hear my voice? to
me…
Mungkin hanya kebetulan… atau memang telah
ditakdirkan demikian, ketika menyanyikan bait tersebut, Ye-sung menoleh ke
tempat penonton di sayap kanan panggung, dan entah mengapa sosok Juny langsung
menarik perhatiannya.
Detik ketika mata
mereka saling beradu pandang, sesuatu yang nyaris mistis seolah menyelubungi
keduanya. Udara seolah menghilang, dan tubuh keduanya bagaikan tersengat listrik.
“Juny.”
Panggilan tersebut
memutus apapun yang tengah terjadi diantara Juny dan Ye-sung. Menoleh menatap
orang yang memanggil dan menyentuh pundaknya, Juny terkejut mendapati kakaknya,
Kennard Killarney, berdiri di hadapannya lengkap dengan seragam pasukan
kerajaan dan jubah hitam panjang.
Gadis-gadis disekitar
dua bersaudara itu memandangi mereka penuh perhatian. Tak setiap hari mereka
berkesempatan melihat orang asing dengan pakaian bergaya eropa jaman dulu
seperti ini. terlebih, ketampanan klasik Kennard yang bagaikan bangsawan dalam
kisah-kisah dongeng, memukau mereka.
“Ayo kita pulang,”
ajak Kennard, tanpa memperdulikan pemujaan yang jelas-jelas ditunjukkan
gadis-gadis di sekelilingnya.
“Bagaimana kau bisa—“
“Sore tadi aku dan
ayah pulang dan mendapati kau tak ada,” jawab Kennard. “Sebaiknya kita pulang
sekarang. saat pergi tadi ayah dan ibu sedang bertengkar karena masalah ini.”
Juny menghembuskan
nafas lega. selama beberapa minggu ini ayah dan kakaknya tak berada di rumah
karena bertugas mengawal Raja ke Konferensi Penyihir Dunia di Inggris.
Syukurlah ayah sudah pulang, berarti aku tak akan lagi dipaksa berhubungan
dengan si konyol itu, pikir Juny. karena Tuan Killarney yang amat memanjakan
putrinya itu tak mungkin memaksa Juny melakukan hal yang tak diinginkan.
Tiba-tiba Juny
menoleh kembali ke arah panggung. Tapi pria itu tidak terlihat konyol saat
menyanyi, batinnya mengakui.
“Juny,” panggil
Kennard lagi.
“Ah, ya, ayo.”
Dua bulan kemudian…
-
Kediaman Keluarga Killarney - Clonmel,
Irlandia -
“Terakhir kali aku melihatmu, kau masih
bocah kecil yang lucu. Sekarang kau sudah tumbuh dewasa dan cantik,” puji Mora
McKenzie, seorang bibi jauh Juny yang datang berkunjung hari ini.
“Terima
kasih, Bibi,” sahut Juny seadanya.
“Ah,
dimana Kennardku yang tampan?” tanya Mora pada sepupunya, Nyonya Killarney.
“Di
istana,” jawab Nyonya Killarney sembari memperbaiki letak rok gaunnya.
“Dia
belum juga menikah?”
“Tampaknya
aku dikaruniai anak-anak yang anti pernikahan,” jawab Nyonya Killarney dengan
nada menyindir sembari melirik Juny yang berpura-pura tak tahu.
Mora
menatap Juny sambil tersenyum. “Kudengar kau tak menyukai hasil ramalan dari
cermin jodoh, benar begitu?”
“’Tak
menyukai’ kedengarannya terlalu menyepelekan apa yang kurasakan,” jawab Juny.
“Ah, tapi… maaf bila aku lancang, bukankah… dulu bibi juga menolak pria yang
disebutkan oleh cermin jodoh?”
Mora
mengangguk-angguk sembari menyeruput tehnya. “Benar,” jawabnya tenang. “ahhh…
sudah belasan tahun berlalu, tapi aku masih ingat jelas ramalan yang
mengguncang hidupku itu,” katanya dengan dramatis. Diliriknya sepupunya sebelum
menatap Juny penuh perhitungan. “Bagaimana mungkin aku bisa menerima bahwa
jodohku adalah seorang pembuat ramuan sederhana yang tinggal di tengah hutan
belantara? Aku menyukai kehidupan perkotaan dan pesta di istana. Tinggal di
gubuk dengan penyendiri seperti itu akan membuatku gila!”
Juny
nampak bersemangat. Mora bagaikan teman senasib baginya. Mereka sama-sama tak
menginginkan orang yang menurut ramalan merupakan jodoh mereka. “Itu benar,
bagaimana kita bisa memaksakan diri menyukai sesuatu yang tidak kita suka?”
komentarnya.
“Begitulah.
Hingga sekarang aku menolak, dan seperti yang kau tahu, aku menikah dengan pria
lain,” lanjut Mora.
“Pria-pria
lain,” ralat Nyonya Killarney. “Kau menikah hingga 5 kali.”
“Apalah
artinya angka,” sahut Mora meremehkan.
“Berarti
aku tetap bisa menikah dengan siapapun yang kumau, tak peduli isi ramalan,
bukan begitu!?” tanya Juny antusias.
“Tentu
saja,” jawab Mora. “Tahukah kau mengapa ketepatan ramalan cermin jodoh
dikatakan hanya 99%? Karena yang 1% nya lagi ditentukan oleh diri kita sendiri.
Tak peduli bagaimana isi ramalan
tersebut, kitalah yang menentukan nasib kita sendiri.”
“Itu
benar!”
Nyonya
Killarney berdeham sambil melayangkan tatapan memperingatkan terhadap
sepupunya. Menambah semangat Juny menolak jodohnya bukanlah tujuannya
mengundang Mora.
“Tetapi
Sayangku,” ucap Mora halus. “walau tak ingin mengakuinya, namun sekarang aku
menyesali sikap angkuh dan kekanakanku dulu yang menolak pria itu.”
“Kenapa?”
Mora
melirik Nyonya Killarney, dan mendapat isyarat untuk melanjutkan. “Menolak apa
yang telah ditakdirkan para dewa untuk kita hanya memancing kemurkaan mereka,”
ia berhenti sesaat untuk mengusap setitik air mata di sudut matanya. “kau tak
bisa membayangkan hal mengerikan apa yang akan menimpamu… seperti yang telah
kualami sendiri…”
Nyonya
Killarney berusaha menyembunyikan senyumnya ketika melihat Juny berjengit
ngeri.
“Hal…
mengerikan…?”
Mora
terisak pelan, tak dapat menjawab. Nyonya Killarney langsung merangkulnya untuk
menenangkan. “Pergilah ke kamarmu, Bibimu harus menenangkan diri,” sarannya
pada putrinya.
“Baik,”
sahut Juny menurut. “Maafkan aku bila pertanyaanku mengingatkanmu pada hal-hal
buruk, Bibi Mora,” tambahnya sopan sebelum keluar dari ruang santai keluarganya
itu.
Sembari
berjalan di koridor menuju kamarnya, Juny kembali mengulang-ulang pembicaraan
mereka tadi. Hal mengerikan seperti apa maksudnya? Pikirnya.
Juny
mencoba mengingat-ingat semua berita yang didengarnya tentang Bibi Moranya.
Suami pertamanya meninggal di malam pesta pernikahannya karena kalah berduel
sihir di saat mabuk. Mora juga sempat diasingkan karena tanpa sengaja nyaris
mencelakai putri perdana menteri yang tak disukainya—walaupun menurut orangtua
Juny, Mora hanya bercanda waktu itu. Suami kedua Mora hanya bertahan satu
bulan, sebelum meninggalkannya karena bertemu dengan “jodoh aslinya”.
Semakin
lama Juny mengingat gossip-gossip seputar bibinya itu, semakin ia bergidik
ngeri. Seorang Juny Killarney tak akan terperosok dalam kejadian-kejadian yang
membawa aib seperti itu! tapi… tapi… bagaimana bila para dewa juga menjadi
murka padaku karena menolak si konyol itu!? batin Juny menjerit resah. Tidak,
itu tak boleh terjadi! Berpasangan dengan pria Asia non penyihir masih lebih
bisa diterima dibandingkan harus menerima kesialan demi kesialan seperti yang
dialami bibi Moranya!
Duduk berdua di halaman belakang
rumahnya yang asri, dengan kurcaci-kurcaci yang berseliwiran menata taman
tersebut, Nyonya Killarney dan Mora memandang langit biru yang cerah.
“Dia
bergerak cepat,” komentar Mora, memandangi sosok Juny yang melayang tinggi di
udara dengan sapu terbangnya. Sebuah koper cokelat besar terikat di sapu tersebut.
Nyonya
Killarney tersenyum. “Sudah kubilang cara ini pasti berhasil.”
“Aku
merasa tak enak telah membohongi gadis malang itu,” keluh Mora.
“Kau
tak sepenuhnya bohong. Hal mengerikan memang terjadi karena kau menolak
jodohmu,” kata Nyonya Killarney tenang. Ditatapnya wajah sepupunya itu. “Karena
tak bersatu dengannya, kau tidak pernah merasakan kebahagiaan yang seutuhnya.
Kau merasa hampa, karena tak bersatu dengan orang yang seharusnya menjadi
belahan jiwamu.”
“Itu
benar… sesenang apapun aku, rasanya selalu ada yang kurang dalam hidupku…”
“Kebahagiaan
amat penting. Tak memilikinya tentu akan sangat mengerikan, jadi kau tak
sepenuhnya berbohong pada Juny,” kata Nyonya Killarney.
“Seandainya
aku bisa mengulang waktu… kini orang itu telah tiada…” mata Mora terlihat
menerawang, mengingat berita yang didengarnya tentang kematian pria yang
merupakan jodohnya itu.
“Karena
itulah aku melakukan semua ini. aku tak mau Juny menyia-nyiakan kesempatannya
untuk bahagia,” kata Nyonya Killarney.
Ia berjalan ke kolam di tengah tamannya, dan dengan sedikit menggerakkan
tongkat sihirnya, di kolam tersebut muncul wajah Ye-sung yang tengah tersenyum
pada teman-temannya. “Pemuda ini akan memberikan kebahagiaan untuk putri
kesayanganku.”
-
Handel and Gretel - Seoul, Korea -
(tanda * berarti pembicaraan dalam
bahasa Inggris)
“Erhm…” Jong-jin, adik Ye-sung, berdeham
gugup menghadapi wanita asing dihadapannya saat ini. pegawai yang lain tak
dapat berbahasa Inggris dan mendesaknya bicara dengan wanita ini karena sejak
tadi hanya duduk tanpa memesan apa-apa. “*permisi, Nona. Apa kau kau ingin
memesan sesuatu?”
Juny
melirik Jong-jin sekilas, sebelum kembali menatap tajam Ye-sung yang tengah
duduk semeja dengan Hee-chul dan Ryeo-wook.
“Emm…
*nona?” panggil Jong-jin.
Juny
mendelik sadis ke arah Jong-jin, membuat pemuda itu merasa ngeri, terlebih
dengan aura ‘kegelapan’ yang menyelubungi Juny—sebenarnya aura gadis ini
mengingatkannya pada aura kakaknya sendiri—membuat gadis itu tampak semakin
seram. Apa dia dari pesta kostum? Pikir Jong-jin, mengamati tata rambut rumit
Juny dan gaun hitamnya.
“Panggil
dia!” perintah Juny dalam bahasa Korea—menggunakan mantra untuk dapat mengerti bahasa
apa pun—sambil menunjuk ke arah Ye-sung.
“Eh?
Kau bisa—“ ucap Jong-jin terkejut. “Baiklah, sebentar,” pintanya, lalu
buru-buru memanggil Ye-sung. Ia bersyukur dapat jauh-jauh dari gadis mengerikan
itu.
“Kak,
ada yang mau bertemu denganmu,” lapor Jong-jin pada Ye-sung.
“Siapa?”
“Itu,”
Jong-jin menunjuk Juny dengan gerakan kepalanya tanpa berani menatap gadis itu.
“Wah,
penggemar dari luar negeri?” ucap Hee-chul bersemangat. “Gayanya unik.”
“Dia
cantik,” komentar Ryeo-wook. “Tapi menakutkan,” tambahnya cepat ketika mendapat
tatapan tajam Juny.
“Temui
dia,” perintah Hee-chul. “Ah, sudah jam segini, aku harus pulang dan tidur
cepat kalau tidak besok terlambat masuk kantor dan akan diomeli Lee-teuk,”
katanya sambil berdiri. Hee-chul, Lee-teuk, dan Kang-in saat ini tengah
menjalani wajib militer mereka.
“Sampai
jumpa nanti,” kata Ryeo-wook ceria.
“Hmm,”
gumam Hee-chul menanggapi. Saat melintas di samping meja Juny, dikedipkannya
sebelah matanya dengan gaya menggoda pada gadis itu, tetapi bukan reaksi
tersipu malu atau senang yang didapatnya, Juny justru membelalakkan matanya
memelototi Hee-chul.
“Gadis
macam apa itu,” gerutu Hee-chul sambil mendorong pintu café.
Ye-sung
mendatangi Juny sembari tersenyum ramah. “Eh… *kau… mau… bicara…”
“Dia
bisa bahasa Korea, kak,” sela Jong-jin, kasihan melihat kakaknya kesulitan berbahasa
Inggris.
“Benarkah!?”
ucap Ye-sung terkejut. “Jadi? Kau mencariku?” tanyanya sembari mengamati Juny.
Tak
menyahut, Juny justru melakukan penelitiannya sendiri. Dicermatinya Ye-sung
dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu menghela napas frustasi.
“Nona?”
panggil Ye-sung heran.
Juny
berdiri, lalu meraih mantel, sapu, dan kopernya. Ye-sung menatap heran sapu
yang dibawa gadis itu. untuk apa dia membawa-bawa sapu? batinnya.
“Sampai
jumpa di rumah,” kata Juny dengan nada datar sebelum berlalu dari tempat itu.
“Ya…
eh? Apa katanya tadi?”
-
Apartemen Ye-sung -
Baru tahun ini Ye-sung membeli
apartemennya sendiri. Ia merasa senang dan bangga dengan tempat tinggalnya,
namun terkadang ia merasa kesepian, setelah terbiasa tinggal bersama-sama dengan
saudara-saudara Super Juniornya bertahun-tahun.
Melepas
sepatunya, di foyer, Ye-sung masuk ke ruang tamunya sambil menyapa Ddangkoma di
dalam kandangnya.
“Aku
pulang. Kau tak menyapaku? Hei, anak nakal,” ucap Ye-sung pada kura-kuranya
itu. “Kau sudah tidur?”
“Bisakah
kau menghentikan kekonyolanmu ini? dia tak mungkin menjawabmu!” gerutu Juny,
yang baru keluar dari kamar tamu kosong yang kini telah di klaimnya sebagai
kamarnya—tanpa seijin pemilik rumah.
Terperanjat
mendengar suara wanita, Ye-sung jatuh terduduk di sisi kandang Ddangkoma. Mata
sipit Ye-sung sedikit membesar, memperlihatkan betapa terkejutnya ia melihat
kehadiran Juny di dalam rumahnya.
“Kau…
kau… bagaimana bisa…”
“Juny
Killarney,” gadis itu menyorongkan tangannya untuk memperkenalkan diri.
Ye-sung
menatap tangan gadis itu, ke wajahnya yang tenang seolah tanpa dosa, lalu
kembali ke tangannya. Bagaimana mungkin mengajak orang berkenalan setenang ini
setelah menerobos masuk begitu saja, pikir Ye-sung tercengang.
Tak
sabar menunggu reaksi Ye-sung, Juny bergerak maju untuk meraih tangan pria itu
dan menjabatnya. Seketika, sengatan listrik seolah menjalari tubuh keduanya.
Bingung dengan yang terjadi, buru-buru Juny menarik tangannya kembali.
“Kau
gadis di café tadi kan? Mau apa kau ke mari? bagaimana kau bisa masuk!?” tuntut
Ye-sung sembari berdiri. Diusap-usapnya tangannya yang seolah tersengat listrik
tadi ke pahanya.
“Walau
tak ingin, tapi kita tetap harus melakukan ini,” ucap Juny, terdengar tak masuk
akan bagi Ye-sung.
“Apa
maksudmu?”
“Kita
akan hidup bersama mulai sekarang.”
“Kita…?
Apa!?”
To Be Continued…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar