Minggu, 18 Desember 2011

F A T E . 02
by Destira A F



Chapter 2

- Apartemen Ye-sung / Kim Jong-woon -    

Ye-sung merenggangkan tubuhnya di atas kasurnya yang empuk sambil mengerang dan menguap. Mengerjap-ngerjapkan mata beberapa detik, perlahan kantuknya hilang sepenuhnya. Beranjak duduk sambil menggaruk-garuk kepalanya, ia menatap ke jendela kamarnya yang tak tertutupi tirai dan membuat sinar matahari pagi menerobos masuk dengan bebas.             
      
Ia berdiri dan menghampiri jendela tersebut untuk membukanya dan membiarkan udara segar masuk. Suasana begitu tenang dan damai pagi ini. Ye-sung menghirup udara pagi yang segar, lalu tersenyum. Tapi tiba-tiba teringat olehnya gadis aneh semalam.
      
Ye-sung menggeleng-gelengkan kepalanya. Semalam pasti cuma mimpi buruk, pikirnya meyakinkan diri sambil berjalan keluar dari kamarnya. Benar, semua hanya mimpi, batinnya, mengamati keadaan sepi, tenang, dan teratur apartemennya yang seperti biasa. Bahkan Ddangkoma pun terlihat nyaman bermala-malasan dalam kandangnya.
      
“Selamat pagi, Ddangkoma!” sapanya sebelum berbelok menuju kamar mandi, namun langkahnya terhenti ketika melihat pintu kamar tamunya yang terbuka. Kapan aku membukanya? batinnya dalam hati sembari melangkah mendekati kamar itu. “Astaga!” serunya, terkejut bukan kepalang, melihat gadis yang dipikirnya hanya berasal dari mimpi buruknya, kini tengah duduk santai di depan meja rias kamar tamunya.
     
Dan yang lebih mencengangkan—membuat Ye-sung berpikir bahwa dirinya sebenarnya masih tidur dan sedang berada dalam dunia mimpi—adalah cara gadis itu berdandan. Ia tidak menggunakan tangannya sendiri untuk menyisir dan mengikat rambutnya dalam tatanan yang rumit tersebut, melainkan benda-benda seperti sisir, pita, jepit rambut, dan semacamnya itu, melayang-layang di udara, bergerak-gerak sendiri untuk menata dan menghias rambut gadis itu, sementara ia sendiri tengah asyik membaca buku!

F A T E . 01
by Destira A F


Prolog

- 22 Juni -                 
- Juny Killarney - Sloir School - Clonmel, Irlandia -         

“Selamat ulangtahun, Juny!” ucap teman-teman dan orang-orang yang mengetahui ini hari ulangtahunku.
      
Dan, “Selamat atas kelulusanmu,” ucap para guru dan adik-adik kelasku, karena ini juga bertepatan dengan hari kelulusanku dari Sloir School. Sekolah sihir khusus wanita.
      
“Ya, terima kasih,” sahutku sopan seadanya pada mereka sambil terus berjalan cepat menuju aula. Tiga orang teman seangkatanku, yang juga telah menjadi sahabatku selama bertahun-tahun, ikut mempercepat langkah mereka mengiringiku.
      
Nyonya Fitzpatrick dan semua gadis yang lulus hari ini telah berada di sana.
      
Aku, Heather, Ellen, dan Angelia mengambil tempat di deret terdepan, menggusur keempat gadis lain yang telah lebih dulu duduk di sana. Senyum sinis tersungging di bibirku saat melihat mereka menurut walau dengan menggerutu pelan. tak ada satu pun murid yang berani melawan keinginanku dan ketiga temanku. Aku dan Heather adalah penyihir terbaik Sloir School tahun ini—aku di urutan pertama, dan dia di urutan ke dua. Para pembenci kami harus berpikir ratusan kali sebelum berani melawan gengku.